Rabu, 11 Desember 2013

PERENCANAAN





Ini bukanlah mengenai apakah kita akan membuat rencana atau tidak. Tidak merencanakan adalah sebuah rencana di dalam rencana itu sendiri, karena perencanaan pada dasarnya tidak lebih dari upaya untuk menentukan sebelumnya apa yang akan atau tidak akan kita lakukan pada menit, jam, hari, bulan, atau tahun-tahun berikutnya. Bagi pemimpin Kristen, perencanaan mempertanyakan, apakah kita akan memengaruhi masa depan secara acak atau dengan tujuan. Karena, kita pasti akan memengaruhinya. Kita memiliki tanggung jawab untuk menentukan akan menjadi apa kita seharusnya atau apa yang seharusnya kita lakukan, dan karena itu haruslah kita merencanakan.

Perencanaan Memiliki Catatan Riwayat yang Buruk

Dalam bukunya yang sangat menarik, "The Human Side of Planning" (diterbitkan oleh Macmillan, 1969), David Ewing menyatakan bahwa pada umumnya, perencanaan memiliki catatan riwayat yang buruk. Dia benar. Ewing berpendapat bahwa kesulitan utama adalah kegagalan dari para perencana untuk mengingat dan memercayai orang-orang untuk siapa mereka membuat rencana. Tetapi, ada sisi yang lainnya. Banyak orang memiliki pemahaman tentang perencanaan yang sempit dan terbatas. Mereka membayangkan rencana sebagai dua tembok tinggi di mana mereka harus berjalan di antaranya. Beberapa orang Kristen memandang bahwa keputusan yang telah ditentukan sebagai tindakan kesombongan dan merupakan penghinaan terhadap Allah.

Perencanaan Dimulai dengan Tujuan

Perencanaan harus didasarkan pada tujuan yang dapat diukur dan dapat dicapai.

Ada dikatakan, "Jika Anda tidak peduli ke mana tujuan Anda, semua jalan akan membawa Anda ke sana." Tidaklah selalu mudah untuk mendefinisikan dengan jelas mau menjadi apa kita atau apa yang ingin kita lakukan, tetapi kegagalan dari sebagian banyak rencana terletak pada dimulainya dari tujuan yang tidak jelas. Komunikasi merupakan hal yang paling sulit, dan jika tujuan kita tidak jelas dan tidak bisa disampaikan, tujuan itu tidak akan menjadi rencana yang jelas dan dapat dikomunikasikan.

Perencanaan adalah Berusaha untuk Menulis Sejarah Masa Depan

Manusia adalah makhluk yang berorientasi pada masa depan. Ia berencana atas dasar apa yang telah dirasakan di masa lalu, namun ia mencoba untuk memproyeksikan pemahaman ini ke masa depan. Kecuali untuk proyek yang paling sederhana dan terdekat, sangat tidak mungkin bahwa prediksi kita tentang masa depan akan 100 persen akurat. Pepatah lama yang berbunyi "Jika sesuatu bisa salah, mungkin itu akan salah" adalah cara lain untuk mengatakan bahwa terdapat begitu banyak kemungkinan bahwa sesuatu selain dari apa yang kita duga dan harapkan, akan terjadi, bahwa kemungkinan hal-hal terjadi sesuai dengan cara kita, sangatlah kecil.

Dari sudut pandang Kristen, sebagian besar hidup adalah kegagalan! "Hampir menyelesaikan sesuatu sama dengan tidak menyelesaikannya sama sekali" 99 persennya adalah dosa (kegagalan). Namun, kita telah belajar bahwa kita hidup di dunia yang tidak sempurna. Yang tak diharapkan dan tak terduga terus membuat kita kehilangan keseimbangan. Perencanaan berupaya untuk menghapus kabut dari jendela masa depan dan mengurangi jumlah dan dampak dari hal-hal yang mengejutkan.

Karena itu, perencanaan adalah upaya untuk berpindah dari "masa sekarang" ke "masa depan", untuk mengubah segala sesuatu dari "apa yang ada sekarang" ke "hal-hal yang seharusnya".

Perencanaan adalah Sebuah Panah

Kalau manusia tidak bisa memastikan masa depan, mengapa berencana? Pada dasarnya, itu adalah untuk meningkatkan kemungkinan bahwa apa yang kita yakini harus terjadi, akan benar-benar terjadi. Tujuan yang telah terpancang di benak kita di masa depan: "untuk mencapai api menara pengintai di atas gunung itu besok siang", "untuk menyediakan dana yang cukup sehingga anak-anak kita bisa kuliah", "untuk memulai pelayanan baru di daerah yang didiami oleh golongan minoritas", "untuk menerapkan sebuah program pelatihan baru bagi organisasi kita". Sebutkan saja! Titik panah perencanaan ibaratnya menyentuh tujuan. Langkah-langkah yang perlu dicapai meregang dari belakang dan mengikuti anak panah ke masa kini untuk membuat sebuah "rencana".

Perencanaan adalah Sebuah Proses

Jika rencana dianggap sebagai hal yang tetap dan tidak berubah, kemungkinan besar keduanya akan gagal. Perencanaan adalah suatu proses. Langkah yang diperlukan direncanakan, menunjuk ke arah tujuan masa depan, tetapi di saat setiap langkah besar diambil, evaluasi ulang, atau umpan balik, merupakan proses yang kita lakukan, pertama adalah menguji kembali masa depan di setiap langkah dan kedua adalah mengukur tingkat kemajuan kita. Jika kita telah menetapkan tujuan untuk memiliki seratus anggota baru di gereja selama dua belas bulan ke depan, sebaiknya kita tidak menunggu sampai bulan kesebelas untuk melihat bagaimana kita melakukannya. Jika kita berencana untuk mengemudi 1.000 mil di wilayah asing, yang terbaik adalah untuk melihat peta jalan sekali-sekali dan mengukur kemajuan. Jika kita merencanakan untuk melatih kelompok untuk sebuah tugas baru dan menempatkan mereka untuk bekerja dalam enam bulan, pos pemeriksaan di sepanjang jalan akan dibutuhkan.

Namun, berulang kali kita gagal untuk mengevaluasi kemajuan. Dan, kadang-kadang, kita bahkan membuat sebuah program evaluasi dan kemudian gagal untuk menggunakannya. Mengapa? Sering kali, itu dikarenakan pengukuran yang mungkin memakan energi sebanyak energi yang dibutuhkan untuk program itu sendiri. Di lain waktu, kita begitu sibuk dengan apa yang kita lakukan sehingga kita lupa (atau tidak mau) untuk bertanya, "Bagaimana keadaan kita?"

Perencanaan Membutuhkan Waktu

Tetapi, setiap menit berharga. Namun, kebanyakan dari kita tidak akan mengambil waktu, kecuali kita secara sadar menyisihkannya. Membuat daftar hal-hal yang harus dikerjakan setiap hari harus menjadi kebiasaan rutin. Membuat tinjauan berdasarkan bulanan, kuartal, dan tahunan pada kalender kita akan membangun proses tersebut menjadi "pekerjaan" rutin yang perlu kita lakukan setiap hari.

Dan, karena perencanaan memerlukan waktu, itu harus dimulai sedini mungkin. Sebagai contoh, di gereja jangan menunggu sampai bulan Oktober untuk mulai merencanakan untuk tahun depan! Proses ini harus dimulai paling lambat di bulan April atau Mei sehingga sebanyak mungkin orang dapat dibawa masuk, dan supaya Anda tidak tergesa-gesa ke masa depan.

Karena itu, proses evaluasi harusnya hanya menjadi bagian dari perencanaan kita pada saat mencapai langkah-langkah untuk mencapai tujuan. Seseorang harus bertanggung jawab untuk pengukuran, biasanya bukan orang yang bertanggung jawab untuk pencapaian.

Perencanaan adalah Pribadi dan Juga Bersama-Sama

Jangan menjadi tersesat untuk percaya bahwa perencanaan untuk besok hanya berguna bagi kelompok. Penetapan tujuan dan perencanaan harus menjadi gaya hidup pribadi jika ingin benar-benar menjadi efektif. Ada hubungan langsung antara keefektifan seseorang dalam kehidupan pribadinya dan keefektifannya dalam kehidupan organisasinya.

Menerapkan proses perencanaan pada hubungan keluarga dan interpersonal akan mempertajam pemahaman keseluruhan seseorang, di mana dia cocok dan bagaimana ia berhubungan dengan orang-orang di sekitarnya.

Perencanaan adalah Orang-Orang

Atau, seharusnya begitu! Untuk kembali ke pengamatan Ewing, untuk menghilangkan orang-orang dari persamaan perencanaan berarti mencari bencana. Setiap rencana harus disusun dan dibuat oleh orang yang melakukan pekerjaan itu. Misalnya, tugas dari komite perencanaan seharusnya tidak merencanakan untuk orang lain, melainkan untuk memberi informasi yang mereka butuhkan, yang menjadi dasar rencana mereka ("Akan menjadi seperti apa masyarakat kita dalam sepuluh tahun?"), dan untuk memberikan pelatihan, nasihat, dan koordinasi dalam perencanaan.

Perencanaan Mengomunikasikan Maksud Kita

Seiring dengan populasi dunia yang bertumbuh dan cara kita berkomunikasi satu sama lain yang semakin canggih, peluang untuk bekerja sama pun tumbuh semakin meningkat. Di dunia Barat, jumlah peran berbeda yang kita lakukan sebagai individu (ayah, suami, teman, rohaniwan, anggota klub, sopir, dll.) dan sebagai anggota organisasi (pelayanan, perawatan karyawan, tanggung jawab sosial, batasan hukum, dll.) tumbuh pada tingkat yang fantastis. Jumlah "persimpangan" dengan rencana orang lain pun bertumbuh menyesuaikan. Seolah-olah dunia telah menjadi benar-benar berlapis dengan jalan-jalan, jalan raya, dan jalan raya untuk lalu lintas kendaraan cepat, masing-masing dari mereka mewakili rencana seseorang (atau beberapa organisasi). Jika kita tidak jelas dalam menentukan mau ke mana kita pergi dan bagaimana kita (saat ini) merencanakan untuk sampai ke sana, kita akan menemukan diri kita terus-menerus bertabrakan dengan rencana orang lain.

Dalam sebuah gereja lokal, mungkin kegagalan pemimpin paduan suara untuk mengomunikasikan rencananya tentang festival besar anak-anak pada suatu waktu di sekolah minggu adalah mengharapkan keterlibatan anak-anak yang sama dalam proyek yang baru. Dalam organisasi yang lebih besar, "tabrakan" dapat terjadi karena satu departemen tidak memadai dalam menyampaikan maksudnya untuk menggunakan ruang, waktu, atau tenaga kerja. Dalam konteks yang lebih besar, berulang kali, satu organisasi bergerak ke depan dengan rencana tanpa mengetahui tujuan dari organisasi lain atau memberitahukan rencana mereka sendiri. Hasilnya, tidak hanya tumpang tindih dan duplikasi, tetapi kebingungan besar di antara organisasi-organisasi yang berbeda, yang sedang berusaha untuk mereka layani.

Dengan memberitahukan tujuan kita dan dengan jelas menunjukkan langkah-langkah yang saat ini kita rencanakan untuk dicapai, kita membangun titik persimpangan dengan orang lain yang juga membuat rencana baru dan sedang mengerjakan rencana yang lama.

Langkah-Langkah dalam Perencanaan Merupakan Subtujuan

Setelah semua pendekatan alternatif dianalisis, disisihkan, dan rencana akhir ditentukan, penting untuk diingat bahwa setiap langkah dari rencana sebenarnya adalah tujuan dalam dirinya sendiri. Setiap langkah, oleh karena itu, harus memiliki karakteristik yang sama dengan tujuan akhir proyek: harus dapat dicapai dan terukur. Hal ini juga harus memiliki tanggal dan nama-nama orang yang bertanggung jawab. Terlepas dari apa metode perencanaan yang digunakan (dan ada banyak), kegagalan untuk menetapkan tanggal dan individu yang bertanggung jawab untuk setiap langkah dari rencana akan mengurangi probabilitas keberhasilan.

"Gagal untuk merencanakan, berarti merencanakan untuk gagal." Begitu sederhana. (t/Jing Jing)

Diterjemahkan dan disunting dari:
Judul buku: The Art of Management for Christian Leaders
Judul bab: Planning -- Part One
Penulis: Ted W. Engstrom & Edward R. Dayton
Penerbit: Word Books, Waco. 1976
Halaman: 45 -- 51

Rabu, 04 Desember 2013

Rangkuman Berita dan Pendapat



    A.  Karyawan yang Sering Lembur Rentan Berselingkuh!
Selasa, 3 Desember 2013 | 12:59 WIB

KOMPAS.com – Apabila suami atau kekasih Anda sering bekerja hingga larut malam, sebaiknya waspadalah. Meskipun 100 persen percaya pada kesetiaan si dia, ternyata menurut hasil temuan sebuah studi, pegawai yang sering lembur di kantor lebih rentan berselingkuh. 
Penelitian yang diakomodasi oleh IllicitEncounters.com ini, mengungkapkan bahwa pegawai yang bekerja lebih dari 45 jam dalam seminggu, berpotensi besar menjalin hubungan perselingkuhan dengan rekan kerja atau klien.
Kondisi ini, kemungkinan besar dikarenakan kedua belah pihak, pegawai pria dan perempuan, merasa sependeritaan dan seperjuangan, sehingga terjalinlah hubungan berlatarkan perasaan saling memahami, yang kemudian secara tidak sengaja hadir percikan asmara.
Seperti yang dilansir oleh DailyMail, jika kebanyakan pegawai berusaha memperoleh waktu libur semaksimal mungkin untuk kekasih atau istri dan keluarga. Maka pasangan karyawan yang berselingkuh ini, justru merasa gundah gulana ketika hari libur atau akhir pekan menjelang.
“Keseringan lembur, membuat seseorang merasa kesepian dan lelah. Sehingga, mereka pun akhirnya mencari hiburan yang bisa membuat mereka nyaman berlama-lama di kantor. Mungkin terdengar janggal, tapi bagi mereka, memiliki seseorang yang mereka perhatikan di kantor, seperti motivasi untuk lebih rajin bekerja. Tetapi, sayangnya malah mengarah pada hubungan romantis, yang merupakan keputusan bodoh,’’ tegas Mike Taylor, Juru Bicara IllicitEncounters.
Melalui penelitian ini terkuak pula bahwa sebanyak 54 persen karyawan yang mengikuti survei, mengaku sering berpikir untuk mencari teman selingkuh di kantor, biasanya rekan kerja. Akhirnya, penelitian ini pun menyimpulkan bahwa semakin panjang jam kerja seseorang, maka semakin tinggi pula kemungkinan mereka untuk berselingkuh. Anda setuju?
Sumber :

Editor :
Syafrina Syaaf

B.     Agar Si Dia Tak Berselingkuh
KOMPAS.com -  Anda mungkin sudah mengetahui penyebab pria bisa terjebak dalam perselingkuhan. Selain mungkin sifat hidung belangnya, ada kondisi serta situasi tertentu yang mendorong sebuah perselingkuhan terjadi.
Cara paling efektif mencegah terjadinya selingkuh adalah dengan menjaga keharmonisan sebuah hubungan. Ini kunci untuk mencegah pria Anda berselingkuh.

1. Menjaga hubungan tetap  menarik
Jika Anda merasa sedikit bosan dengan rutinitas seksual Anda (bahkan jika Anda menyalahkan dia), maka ia kemungkinan besar bosan juga. Mengubah segalanya menjadi kunci. Jadilah orang yang memulai situasi intim lebih sering.

2. Jangan biarkan dia lupa Anda ada

Jika dia pulang kantor terlambat atau pergi keluar dengan teman-temannya, daripada mengomel dan melarang-larang, lebih baik saat ia pergi kirimkan teks mesra, seperti "Aku mencintaimu," "I miss you" atau "Aku punya kejutan khusus untuk kamu ketika Anda tiba di rumah!" Tapi jangan sibuk menginterogasi kemana dia pergi, bersama siapa saja  atau kapan dia akan pulang. Anda hanya perlu  mengingatkan dia masih memiliki seorang wanita di rumah yang mencintainya. Gunakan cinta Anda untuk memaksa pikiran bersalah keluar dari pikirannya jika ia berniat macam-macam.

3. Biarkan dia tahu konsekuensinya

Pada awal hubungan, Anda dapat membiarkan dia tahu dengan cara yang ringan, bahwa Anda tidak akan mentolerir perselingkuhan. Katakan langsung padanya ketika dia sedang diliputi perasaan senang dan jatuh cinta pada Anda. Ia akan ingat bahwa dan berpikir tentang hal itu sebelum ia selingkuh di kemudian hari.

4. Jangan mengomel
Saat memiliki pasangan, hidup pria cenderung melakukan segalanya untuk kebahagiaan pasangan. Melakukan semua yang dia bisa untuk mencoba menyenangkan Anda. Anda memasakkan makanan untuknya, meski rasanya tidak enak dengan senang hati ia menikmati. Nah, seharusnya Anda juga melakukan hal yang sama.  Menonton pertandingan sepak bola dengan dia, memberinya ruang dan keheningan ketika ia ingin membaca koran atau menonton berita, dan memberinya banyak sentuhan singkat dan kecupan mesra sehingga ia tidak pernah merasa kehilangan koneksi itu kepada Anda.
Dan di atas semua,  jangan menjadi istri yang cerewet atau selalu berdebat dengan cara destruktif. Ingat, Anda adalah sistem dukungannya, jadi ketika Anda mencoba selalu mengalahkan dia, dapat membawanya ke kondisi kekacauan emosional, yang buntut-buntutnya akan membuat dia mencari wanita lain yang bisa mendukungnya.


Editor :
Hesti Pratiwi

C.   Membuat Pasangan yang Selingkuh Mengaku
KOMPAS.com - Mengetahui seseorang yang dekat dengan Anda melakukan perselingkuhan,  tentunya akan sangat mengecewakan, ya. Mungkin Anda akan merasa lebih baik jika ia mengakuinya. Namun jika tidak, biasanya itu akan menjadikan Anda sebagai korbannya, semakin terluka.

Kebanyakan dari pelaku perselingkuhan tidak mau mengakui kesalahannya. Hal ini dilakukan untuk menunjukkan bahwa perselingkuhan itu terjadi karena kesalahan pasangannya. Inilah yang membuat luka batin si korban menjadi lebih dalam.

Untuk membuat pasangan mengakui perbuatannya, ada triknya. Sebelumnya, Anda perlu menyajikan fakta-fakta tanpa gangguan emosional. Yuk, ikuti beberapa tips di bawah ini.

1. Kumpulkan bukti. Bisa termasuk print email, laporan dari saksi, atau tanggal dan waktu dari perselingkuhan yang Anda saksikan.

2. Jadwalkan waktu untuk duduk dan berbicara. Hidup bisa menjadi sangat sibuk bagi Anda dan pasangan, tapi yakinkan ia kalau pembicaraan ini penting. Tetapkan di waktu yang Anda dan pasangan sepakati, dan jangan biarkan ia membatalkan pertemuan.

3. Duduklah dengan pasangan dan katakan padanya tentang kecurigaan Anda. Katakan terus terang kalau Anda sudah berpikir ia telah mencurangi Anda dan minta ia untuk menjelaskannya. Jangan biarkan ia mengubah topik pembicaraan.

4. Berikan pasangan bukti yang Anda dapatkan sepotong demi sepotong. Ini Anda lakukan untuk menekannya. Jangan mengungkapkan semuanya sekaligus. Bisa jadi ia marah kepada Anda, tetapi jangan biarkan ia mengendalikan situasi dengan kemarahannya.

5. Lanjutkan dengan tenang, tanyakan apakah ada sesuatu yang ingin ia beritahu kepada Anda. Terus bangun “tekanan” sampai akhirnya dia luluh dan mengakui kesalahannya.

Yang perlu Anda ingat, tidak setiap penipu akan mengaku meskipun bukti yang Anda berikan kuat. Jika penipu tetap tidak mau mengakui kesalahannya, pada titik ini mungkin lebih baik Anda untuk kehilangan dirinya.

(Tabloid Nova/Ester Sondang)

D. Pada Pria seperti Apa Wanita Bisa Selingkuh?
Jumat, 27 September 2013 | 14:28 WIB
http://stat.k.kidsklik.com/data/2k10/kompascom2011/images/icon_dibaca.gif

KOMPAS.com
— Kalau dipikir-pikir, semua orang baik pria maupun wanita memiliki peluang yang sama untuk selingkuh. Memang biasanya selingkuh ini tidaklah direncanakan, tetapi terjadi begitu saja karena ada kesempatan dan masalah yang terpendam antarpasangan.

Jika pria bisa saja selingkuh dengan wanita yang belum lama dikenalnya dan umumnya secara fisik lebih menarik dan berusia lebih muda dari pasangannya, maka beda dengan wanita. Sebuah survei yang dilakukan oleh situs kencan Victoria Milan terhadap 3.256 wanita membuktikan bahwa ada kelompok pria yang paling mungkin diselingkuhi para wanita.

1. Tetangga
Dari semua peserta penelitian, sekitar tiga persennya mengakui bahwa mereka pernah berselingkuh dengan tetangga dekat rumah mereka sendiri. Meski sebenarnya ini terlalu berisiko.

2. Teman suami atau pacar
Hampir enam persen responden yang disurvei menjawab mereka pernah berselingkuh dengan teman suami atau pacar. Biasanya perasaan suka timbul setelah kita melakukan komunikasi intens, misalnya ingin menanyakan sesuatu atau curhat tentang pasangan kita kepada sahabatnya.

3. Teman
Selain dengan teman pasangannya, wanita juga berpotensi untuk berselingkuh dengan teman-temannya sendiri. Anda mungkin sering mendengar ungkapan bahwa pria dan wanita tidak mungkin hanya sekadar menjadi sahabat kan? Ternyata 10 persen wanita mengaku bahwa mereka pernah berselingkuh dengan teman prianya sendiri.

4. Teman kencan online
Pada era teknologi sekarang ini, wanita banyak tergabung dalam media sosial. Sisi baiknya memang bisa menambah banyak teman. Tetapi, ini juga menambah kemungkinan wanita untuk selingkuh. Sekitar 16 persen partisipan pernah selingkuh dengan teman kencan online-nya.

5. Rekan kerja atau bos
Mungkin Anda sudah tak kaget lagi dengan yang satu ini. Sekitar 38 persen wanita yang disurvei mengatakan bahwa rekan kerja atau bos adalah orang yang pernah menjadi partner selingkuh mereka.
Sumber :




E   Yang Pria Cari dengan Berselingkuh
Jumat, 30 November 2012 | 11:25 WIB
KOMPAS.com — Meski tak disukai, bahkan cenderung dihindari, perselingkuhan semakin menjadi hal umum yang kerap ditemui dalam kehidupan berpasangan. Janis Abrahms Spring dalam bukunya After the Affair juga menyebutkan satu dari 2,7 pasangan cenderung tak setia.

Perselingkuhan dilakukan pria dan wanita. Saat pria berselingkuh, biasanya selalu dikaitkan dengan seks. Bob Tomes & Jane Warren, Relationship Coach, menyebutkan, ada lima penyebab mengapa pria berselingkuh tak sekadar seks.

Bob dan Jane mengatakan, perasaan tak bahagia dengan hubungan dan adanya sesuatu yang hilang membuat pria berselingkuh dan mencari berbagai hal ini:

1. Keterikatan emosi

Semakin lama sebuah hubungan berjalan, ada kecenderungan baik perempuan maupun laki-laki merasa dirinya paling benar. Komunikasi pun semakin tersendat. Jika hal ini sering terjadi, pria cenderung menarik diri dan menjadi lebih pendiam, menjaga jarak. Saat ini terjadi, keterikatan emosional semakin sulit didapatkan pasangan.

Ketika pria bertemu dengan perempuan lain yang membuatnya merasa dipahami, akan lebih mudah baginya untuk memiliki kembali kedekatan emosi yang hilang dari hubungannya dengan pasangan. Hubungan emosional inilah yang dicarinya dari perselingkuhan.

2. Apresiasi
Pria senang mendapatkan apresiasi. Namun, problemnya, mereka juga kerap tak tahu caranya untuk meminta apresiasi kala merasa membutuhkannya tetapi tak mendapatkannya dari pasangan. Nah, ketika pria lebih sering mendapatkan kritik dari pasangannya dan selalu berada di pihak yang bersalah, mereka mulai mencari afirmasi positif dari luar.

3. Intimasi
Hal lain yang dicari pria dari berselingkuh adalah intimasi. Saat pria mencari intimasi dengan berselingkuh, tandanya ia tak mendapatkannya dari pasangan karena berbagai sebab. Pria ingin didengarkan oleh pasangan, tentang rencananya, impiannya, dan harapannya. Namun, sering kali pria tak tahu cara mengomunikasikannya ketika pasangan kurang memiliki kemampuan mendengar ini. Nah, saat menjalin hubungan dengan orang baru, pria merasa lebih mudah mengungkapkan semua hal tentangnya, dan karena merasa didengar, ia mendapatkan intimasi tersebut.

4. Perasaan diinginkan
Setiap orang pastinya merasa diinginkan, berapa pun usia, jenis kelamin, dan pekerjaannya, tak terkecuali pria. Pria cenderung terkait dengan peran sebagai sosok yang memberikan rasa aman dan sosok kuat. Perannya ini membuat pria sekadar menjalani tugas mengayomi, tetapi apa yang diberikannya tak lagi penting. Alhasil, pria merasa tak diinginkan, tetapi hanya dibutuhkan. Di hubungan baru, pria merasa lebih berarti karena bukan sekadar dibutuhkan, melainkan diinginkan pasangannya.

5. Seks
Seks menjadi satu cara bagi pria untuk merasa terhubung dengan pasangannya. Mereka merasa dihargai dan diinginkan dengan berhubungan seks. Ketika kesenangan ini tak lagi didapatkannya dari pasangan, pria kemudian mencarinya dengan berselingkuh. Pada hubungan baru tersebut, biasanya frekuensi hubungan seks juga lebih sering.
Penulis :
Wardah Fazriyati
Editor : wawa





F.   Dua Belas Fakta Mengejutkan tentang Selingkuh
SHUTTERSTOCK Faktanya perselingkuhan bermula dari sebuah persahabatan.
Foto:
1
KOMPAS.com — Katanya perasaan istri sangat sensitif dan suka punya firasat bila suami macam-macam. Anda percaya itu?  Lalu ada juga yang percaya bahwa perselingkuhan terjadi jika suami tidak puas atau bahagia dengan istrinya. Kenyataan belum tentu begitu.
Menurut sebuah penelitian Rutgers University, 56 persen laki-laki yang berselingkuh mengaku bahagia dalam pernikahan mereka. Nah, para ahli menjelaskan fenomena ini dan menghilangkan mitos popular lainnya soal perselingkuhan.
Fakta 1: Kebanyakan laki-laki masih cinta dengan istri mereka ketika selingkuh
"Perselingkuhan biasanya terjadi pada fase companionate love, ketika pasangan mulai menetap, punya anak dan memantapkan kehidupan yang dibangun bersama-sama," kata Psikolog Klinis, Andra Brosh, PhD.  Sementara banyak area yang sudah mapan, biasanya sisi romantis mulai hilang. "Kami lebih sering memikirkan perempuan yang mengeluh tentang kurangnya asmara, namun laki-laki juga merasa hal itu juga," kata Dr Brosh. "Mereka sering suffering in silence (memendam semua penderitaan). Mereka percaya hal  tersebut tidak bisa lagi didapatkan dari pasangan mereka." Untuk menghindari hal ini dalam pernikahan Anda, rencankan pergi keluar bersama, menyisihkan waktu untuk seks dan mendiskusikan harapan dan impian. Jangan hanya bicara soal pekerjaan dan anak.

Fakta 2: Laki-laki biasanya selingkuh dengan perempuan yang mereka kenal
Laki-laki yang selingkuh umumnya tidak mengambil perempuan secara acak di bar. "Banyak perempuan berpikir bahwa semua perempuan selingkuhan adalah perempuan nakal. Kenyataannya tidak benar. Hubungan biasanya dimulai dari persahabatan terlebih dahulu.” Bahkan, lebih dari 60% perselingkuhan bermulai dari urusan kerja, Pastikan suami Anda merasa lebih terhubung dengan Anda daripada rekan bisnisnya. "Suami isteri pergi bekerja, mengurus anak-anak mereka dan melakukan hal-hal yang terpisah di malam hari. Itu harus dihentikan," ujar Mary Jo Rapini seorang pakar Intimacy. Dia menyarankan selalu pergi tidur pada waktu yang sama dan berpelukan.

Fakta 3: Laki-laki selingkuh untuk menyelamatkan pernikahan mereka
"Laki-laki suka pasangan mereka, tetapi mereka tidak tahu bagaimana untuk memperbaiki masalah hubungan mereka, sehingga mereka mencari alternatif di luar untuk mengisi hal yang kosong," Susan Mandel, PhD., Family Therapist. Laki-laki memiliki gagasan miring bahwa perempuan lain akan membuat kerinduan untuk sesuatu yang kurang menghilang. Kemudian, mereka dapat hidup bahagia selamanya dengan istri mereka tanpa menghadapi serta berusaha menyelesaikan masalah yang nyata.

Fakta 4: Laki-laki membenci diri mereka sendiri setelah selingkuh
Anda mungkin berpikir laki-laki yang selingkuh tidak memiliki moral, tapi sementara yang mereka lakukan tidak bermoral, mereka cenderung membenci diri . "Jika dia menempatkan egonya ke samping, ia akan merasa seperti sampah," kata pakar hubungan Charles J. Orlando, penulis buku The Problem with Women...Is Men.

Fakta 5: Laki – laki yang selingkuh makin mesra dengan istrinya
"Ketika seorang laki-laki mulai selingkuh, ia menjadi hiperaktif secara seksual," kata Rapini, Lebih jauh ia menjelaskan bahwa dorongan seksualnya telah dibangunkan, dan istrinya masih orang yang paling nyaman dalam urusan seksual. Jika Anda melihat perubahan mendadak dalam dorongan seksual suami Anda, itu bisa jadi lampu merah. “Saat hubungan perselingkuhannya makin kuat ia akan mulai menarik diri.”

Fakta 6: Perempuan juga bisa selingkuh
Sebuah studi Indiana University menunjukkan bahwa laki-laki dan perempuan selingkuh pada tingkat yang sama. “Tapi alasannya berbeda," kata Orlando. Dia menjelaskan perempuan lebih mungkin selingkuh untuk kepuasan emosional. "Selingkuh online - tanpa kontak fisik - adalah jenis yang paling merusak dari perselingkuhan," kata Orlando. Sebab bila perasaan Anda sudah diberikan pada orang lain. Itu sama saja Anda sudah keluar dari pernikahan.

Fakta 7: Seorang istri seringkali tahu suaminya selingkuh
Bagaimana bisa mantan istri Tiger Woods, Elin Nordegren, dan mantan Arnold Schwarzenegger, Maria Shriver, tidak tahu suaminya yang high profile berselingkuh? Mereka mungkin mengetahuinya, tapi tidak tahan untuk mengakuinya.

Fakta 8: Pernikahan tidak akan bisa diselamatkan di tengah perselingkuhan
Laki-laki mungkin setuju untuk menyelamatkan pernikahan tapi itu bukan berarti menghentikan hubungannya dengan perempuan lain. "Suami sedang dalam hubungan yang menyenagkan tanpa semua drama yang ada dalam hubungan stabil," kata Orlando. Pernikahan kemungkinan akan gagal, kecuali ia memutuskan dengan kemauannya sendiri bahwa hidupnya tidak lebih baik dengan perempuan lain. Jadi kuncinya adalah pencegahan. Terus menjadi perempuan yang membuatnya jatuh cinta pertama kali. "Perempuan sering berubah dari pacar yang penuh kasih menjadi istri cerewet yang suka mengomel." Jangan pelit memberinya pujian dan mengejutkannya dengan seks.

Fakta 9: Perselingkuhan bisa memperbaiki pernikahan
Apakah perselingkuhan merupakan akhir dari sebuah hubungan? Tidak selalu. Meskipun hubungan baru yang menarik, "Perselingkuhan dapat menghidupkan kembali pernikahan," kata Orlando. "Laki-laki menyadari akan orang yang mereka inginkan untuk sisa hidup mereka dan bahwa hubungan baru tidak sesempurna yang mereka pikir."

Fakta 10: Setelah membangun kembali pernikahan, suami masih merindukan selingkuhannya
Dia mungkin mencintai istrinya dan ingin menyelamatkan pernikahan, tapi dia tidak benar-benar lupa tentang perselingkuhannya. "Dia mungkin akan merindukan hal-hal yang besar tentang perempuan menyenangkan lainnya, kebebasan dari tanggung jawab, seks, seringkali ia juga merindukan perasaannya ketika bersama dengan dia, "kata Orlando.

Fakta 11: Laki-laki yang selingkuh sadar ia merobek kebahagiaan keluarganya
Seorang laki-laki mungkin menyadari dampak negatif pada, keluarga, istrinya dan dirinya sendiri, tapi masih tetap berselingkuh. "Ini semua dalam persepsinya, Jika dia merasa tidak diinginkan, undervalued dan taken for granted, kebutuhan pribadinya yang diinginkan, dihargai dan dihargai akan menang."

Fakta 12: Perselingkuhan terjadi bukan salah istri
Menyadari hal ini: Jika suami Anda tidak setia, itu bukan kesalahan Anda, tidak peduli apa yang orang katakan. "Ketika dia selingkuh, dia membuat pilihan yang sadar untuk melakukannya," kata Dr. Brosh.

G.   Perempuan Lebih "Pintar" Selingkuh?

KOMPAS.com - Berita mengenai perselingkuhan Kristen Stewart dan Rupert Sanders, sutradaranya di film Snow White and The Huntsman, masih menjadi perbincangan. Sebab perselingkuhan ini, dari sisi pasangan Kristen dan Robert Pattinson, lawan mainnya di seri Twilight, dilakukan oleh pihak perempuan. Fakta ini mematahkan anggapan yang beredar selama ini, bahwa pria lah yang dianggap sebagai tukang selingkuh. Sedangkan perempuan umumnya menjadi korban dari perselingkuhan tersebut.
Namun, dari berbagai studi, sebenarnya kerap terungkap bahwa perempuan sebenarnya lebih pintar dalam berselingkuh. Bagaimana pun, perempuan memiliki gairah yang sama dengan pria, mampu berbohong, atau melakukan tindakan manipulatif lainnya. Hanya saja, perempuan jarang tertangkap basah saat melakukan tindakan tersebut. Dan hal ini ternyata bukan sekadar faktor kebetulan, karena bisa dijelaskan secara ilmiah.
Menurut pakar relationship dan anthropolog Helen Fisher, PhD, manusia memiliki hasrat yang luar biasa untuk berbagi, dan hal ini susah dilawan. Memikirkan konsekuensi jangka panjang adalah sesuatu yang tergolong baru dalam pengembangan otak manusia. Pada kasus perselingkuhan yang melibatkan tokoh-tokoh terkenal seperti Tiger Woods dan Arnold Schwarzeneggers, dapat dilihat bahwa mereka adalah pria-pria dengan kadar testosteron yang tinggi. Kadar testosteron inilah yang antara lain memicu perselingkuhan tersebut.
Dalam suatu penelitian, ketika pasien diinjeksi dengan hormon testosteron, hal itu tidak hanya meningkatkan dorongan seksnya,  tetapi juga kecenderungan berpikir untuk jangka pendek sekaligus mengurangi visi jangka panjang mereka. Testosteron juga meningkatkan kecenderungan mereka untuk bersikap narsisistik. Ingin tahu contohnya?
Misalnya dengan merekam gambar-gambar mereka saat bermesraan, yang kemudian bocor ke publik. Atau, Anda mungkin masih ingat bagaimana 12 anggota Secret Service AS yang sedianya mengawal Presiden Barack Obama menghadiri KTT Amerika di Cartagena, Kolombia, April lalu, ramai-ramai membawa pulang perempuan pekerja seks ke hotel mereka. Sikap ceroboh seperti ini, ditambah kecenderungan berpikir pendek, akhirnya membongkar perilaku mereka yang memalukan.
Perempuan juga memiliki hormon testosteron, yang membantunya dalam memiliki kehidupan seksual yang baik. Namun, kadarnya memang lebih rendah dibandingkan dengan laki-laki.
“Anda jarang menangkap basah perempuan yang selingkuh, karena mereka cenderung berpikir secara kontekstual. Mereka mempertimbangkan visi jangka panjang dan konsekuensi yang akan terjadi, jauh sebelum melakukan perselingkuhan,” ungkap Fisher, saat diskusi panel "The Algorithm Method: Love in the Social Media Age" yang digelar oleh Forbes, beberapa waktu lalu.
Mengapa perselingkuhan perempuan lebih dimaafkan?
Sementara itu, pengacara Blixa Scott, dalam tulisannya untuk majalah online Good Men Project, mengatakan bahwa perselingkuhan yang dilakukan kaum perempuan tidak didasari oleh nafsu dan keinginan memiliki, melainkan lebih karena cinta, kemesraan, dan keinginan menemukan belahan jiwa.
“Budaya kita tidak menoleransi perselingkuhan ketika hal itu murni karena libido. Namun ketika perselingkuhan itu berkaitan dengan kisah cinta, kita bisa memandangnya dengan cara yang berbeda. Dan, sebelum budaya kita berhenti mempertentangkan seksualitas pria dan wanita dengan menekankan bahwa pria hanya mengandalkan nafsu dan wanita hanya mengandalkan cinta, standar ganda perselingkuhan ini akan berlaku," paparnya.
Dalam masyarakat kita, orang yang menjadi korban perselingkuhan akan selalu didukung. Sedangkan bila perempuan yang menjadi pelaku perselingkuhan, biasanya kita melihat-lihat dulu latar belakangnya.
Jika kita mempunyai teman perempuan yang selingkuh, kita tetap berpihak padanya meskipun kita sebenarnya tidak mendukung perilakunya. Apalagi, kalau perselingkuhan itu didasari latar belakang suaminya yang brengsek, misalnya. Tetapi jika sang suami adalah pria yang baik, kita akan dengan mudah menggunjingkan lalu mengucilkan teman perempuan yang selingkuh ini.
Penulis :
Felicitas Harmandini
Editor : Dini


H.   Selingkuh Bukan Salah Si Orang Ketiga
Selasa, 5 Juni 2012 | 16:06 WIB
http://stat.k.kidsklik.com/data/2k10/kompascom2011/images/icon_dibaca.gif
KOMPAS.com - Banyak orang berpikir bahwa orang ketiga dalam pernikahan adalah salah satu penyebab keretakan rumah tangga. Namun, hal ini dengan tegas dibantah oleh konsultan pernikahan Indra Noveldy saat memberikan seminar pernikahan di Jakarta beberapa waktu lalu. "Menurut saya, orang ketiga bukanlah faktor utama penyebab perceraian. Karena dalam hal ini sebenarnya merekalah yang menjadi 'korban'," tukas Indra.
Indra mengungkapkan, sebenarnya orang ketiga bisa hadir di tengah-tengah kehidupan pernikahan karena kesalahan pasangan itu sendiri. Orang ketiga ini hadir karena salah satu pasangan memberi celah yang cukup besar kepada mereka. "Awal masuknya orang ketiga ini karena ada celah yang dibentuk pasangan suami istri sebagai akibat dari masalah dan konflik rumah tangga yang mereka hadapi, namun tak terselesaikan dengan baik," jelasnya.
Setiap pernikahan pasti mengalami berbagai masalah dan konflik. Oleh karenanya, semua masalah harus diselesaikan dengan baik dan memuaskan bagi kedua belah pihak. Sayangnya, banyak pasangan yang menganggap masalah akan selesai dan sembuh seiring berjalannya waktu. Menanggapi hal ini Indra mengungkapkan bahwa sebenarnya anggapan "waktu akan menyembuhkan segalanya" bukan solusi yang tepat.
"Waktu tidak akan menyembuhkan masalah, jika dari dalam diri sendiri tak ada usaha dan keinginan untuk menyelesaikan masalah tersebut," bebernya.
Masalah yang menumpuk dalam rumah tangga lah yang membuat celah di antara pasangan. Celah ini bisa disebabkan oleh perilaku pasangan yang terlalu mendominasi, arogan, terlalu banyak menubtut, atau tidak komunikatif. "Hal-hal ini akan menimbulkan perasaan tidak nyaman dalam diri pasangan saat berada di dekat Anda," bebernya.
Indra menambahkan bahwa kunci pernikahan yang bahagia dan langgeng adalah adanya rasa nyaman terhadap pasangan. Ketika perasaan itu tak lagi didapatkan dari pasangan, maka mereka akan mencari sosok lain yang bisa membuat diri dan perasaan mereka menjadi lebih nyaman dan bahagia.
"Saat seseorang tidak lagi nyaman dengan pasangan, mereka akan mencari orang lain yang bisa memberikan mereka kenyamanan diri. Ini terjadi karena pada dasarnya semua orang punya sifat ingin disayangi dan dimengerti. Dan ketika menemukan orang yang bisa membuat mereka nyaman selain pasangannya, maka inilah awal mula terjadi perselingkuhan," ungkapnya.
Untuk menghindari terjadinya hal ini, jangan buru-buru menyalahkan pasangan karena mereka selingkuh. Coba perbaiki dan intropeksi diri masing-masing, apakah sudah bisa membuat pasangan merasa nyaman hidup bersama Anda. Selain itu, perbaiki hubungan dan perkuat fondasi rumah tangga Anda agar semua masalah yang terjadi bisa diselesaikan dengan baik.
Penulis :
Christina Andhika Setyanti
Editor :
Dini


I.   Bedanya Anda dan Dia Menghadapi Perselingkuhan
KOMPAS.com - Perempuan dan laki-laki sama-sama menderita ketika mengetahui pasangannya selingkuh. Anda dan dia sama-sama berjuang mengatasinya, namun meresponsnya dengan cara yang berbeda.

Perbedaan cara ini tak mutlak, karena cenderung dipengaruhi kebiasaan dan penstereotipan perempuan dan laki-laki sejak belia. Perempuan dan laki-laki bisa saling memelajari cara masing-masing, agar bisa saling memperbaiki diri juga hubungan. Selain juga agar perempuan tak tenggelam dalam drama, dan laki-laki pun bisa belajar mengelola perasaannya lebih baik lagi.

Dia: Cenderung tak bisa melupakan.
Anda: Pintar bermain perasaan, lebih cepat sembuh.

Pria terlihat cepat sekali melupakan perselingkuhan pasangannya. Tapi jauh di dasar hatinya sebenarnya tidak begitu. Pria, sejak kecil, diperlakukan berbeda. Budaya membuat pria harus tampil sebagai sosok kuat dan tegar, tidak boleh menunjukkan perasaan termasuk menangis.

Tapi stereotip ini justru membuat pria tidak pandai menangani masalah perasaannya. Apalagi pria cenderung tidak multitasking sehingga hanya bisa memilih salah satu "feeling mode" atau "thinking mode". Saat pria merasa sakit akibat putus cinta, mereka masuk ke dalam "feeling mode", dan menjadi berlebihan dengan perasaannya itu. Akibatnya kaum pria menjadi "lumpuh" atau sangat marah.

Pria cenderung tidak bisa mengeluarkan isi hati dan menarik diri. Lalu melakukan penyangkalan, dan mengalihkannya ke hal lain, misalnya pekerjaan. Ini juga dilakukan untuk segera melarikan diri dari perasaan sakit. Tapi, sesungguhnya perasaan yang dipendam itu tidak pernah sembuh.

Sedangkan perempuan, dengan kemampuan multitasking, bisa menangani perasaan dengan lebih baik karena bisa berpikir dan merasakan pada saat bersamaan.

Perempuan lebih banyak mengekspresikan emosi dan lebih lihai mengutarakan perasaan. Walaupun terkesan lebih drama, banyak menghabiskan tisu untuk air mata, tapi bisa melakukan resolusi penyembuhan lebih cepat ketimbang pria.

Dia: Lebih agresif membuat keputusan.
Anda: Menuntut penjelasan sebelum bertindak.

Kebanyakan pria bertindak agresif begitu merasa dikhianati. Pria cenderung gampang sekali meledak dan membuat keputusan untuk mengakhiri hubungan. Mereka tidak membutuhkan penjelasan panjang lebar, apalagi ketika egonya terusik. Namun, seperti dikatakan di awal, kecenderungan ini tak bersifat mutlak. Tergantung kemampuan pria mengelola emosinya.

Sementara, reaksi perempuan lebih beragam dari sekadar sedih dan menangis, hingga agresif. Ada yang memilih mengabaikan perselingkuhan dan melanjutkan hidup mereka, ada juga yang segera memilih putus. Namun bagi perempuan, penjelasan menjadi sesuatu hal yang penting mereka dapatkan sebelum mengambil keputusan.

Perempuan cenderung mengkonfrontasi pasangan, menuntut penjelasan, mencari penyebab, baru kemudian bertindak. Bahkan sebuah perselingkuhan kecil menimbulkan daftar pertanyaan yang panjang. Pertanyaan yang selalu muncul di antaranya: apakah dia selingkuh karena saya mengabaikannya? pengaruh teman-temannya? atau memang sifatnya yang penggoda? Perempuan juga cenderung ingin tahu tingkat perselingkuhan itu, apakah fisik, emosional, stabil, mendalam, beberapa kali, atau hanya one night stand?

Karena pemikirannya yang kompleks, perempuan pun kadang terjebak dengan emosinya. Sekali lagi, ini tak mutlak karena tak semua perempuan memiliki masalah emosi yang sama. Karenanya, perlu dipahami bahwa, stereotip terhadap perempuan sebagai makhluk lemah, cengeng, bukanlah penyifatan mutlak dalam diri perempuan. Hal ini bisa diubah, perempuan pun bisa kuat seperti budaya yang membentuk pria sebagai sosok kuat dan tegar.

Dia: Sulit memaafkan.
Anda: Mudah memaafkan dengan banyak syarat.

Memaafkan adalah reaksi paling kerap dilakukan oleh perempuan. Sementara pria tidak mudah memaafkan. Jika pasangan mengakui perselingkuhannya secara langsung, perempuan cenderung mudah memaafkan. Boleh jadi, kemampuan perempuan mengelola perasaan, membuatnya lebih peka.

Namun, memaafkan bukan berarti tanpa waspada. Perempuan cenderung berhati-hati dalam menjalani hubungannya, tak ingin lagi terluka perasaannya dengan mengajak pasangan memperbaiki hubungan. Bagi sebagian perempuan, perselingkuhan bisa jadi membuatnya cenderung mengekang kebebasan pasangan dibandingkan sebelumnya, dan menjadi lebih gampang curiga. Namun hal ini juga bisa terjadi pada laki-laki.

Prinsipnya, bukan karena dia perempuan dan laki-laki, tetapi lebih kepada bagaimana perempuan dan laki-laki tersebut mengelola emosinya yang dipengaruhi budaya pelabelan yang sejak kecil melekat dalam dirinya.

Karena perempuan cenderung diperlakukan sebagai sosok lemah lembut penuh perasaan sejak kecil, alhasil, emosi lebih menguasai dirinya dalam merespons berbagai masalah. Sementara laki-laki, yang sejak kecil, dibiasakan dalam keluarga menjadi sosok tegar, kuat, tak diizinkan menggunakan perasaan, akhirnya tumbuh sebagai orang dewasa yang kurang peka. Namun, pelabelan ini bisa berubah, perempuan bisa menguatkan dirinya, laki-laki pun bisa melatih kepekaan dan mengelola perasaan lebih baik lagi.

(Majalah Chic/Gracia Danarti)
Penulis :
Wardah Fazriyati
Editor :
wawa



J                     Tiga  Hal yang Memicu Perselingkuhan
Selasa, 23 Agustus 2011 | 14:27 WIB
KOMPAS.com - Pernikahan adalah momen membangun kehidupan baru bersama pasangan. Suka-duka akan dihadapi berdua, sebisa mungkin tidak melibatkan pihak lain untuk menyelesaikan masalah. Namun, masalah rumah tangga kadang tidak sesederhana yang dihadapi ketika masih pacaran. Bukan cinta lagi yang dibutuhkan, tetapi komitmen, untuk menjaga keutuhan rumah tangga.

Menurut psikolog Prof Dr Sarlito Wirawan Sarwono, cinta bukanlah pengikat pernikahan. Cinta hanyalah faktor yang bisa menarik seseorang untuk memutuskan berpasangan. “Cinta paling lama bertahan tiga tahun, lalu hilang. Sisanya adalah komitmen, kesetiaan, dan tanggung jawab,” ujar Prof Sarlito, saat peluncuran buku Mencegah Selingkuh dan Cerai karya sosiolog Dra Hartati Nurwijaya di Toko Buku Gramedia Matraman, Jakarta, Minggu (14/8/2011) lalu.

Salah satu penyebab retaknya rumah tangga menurut Prof Sarlito adalah perselingkuhan. Perselingkuhan itu sendiri biasanya disebabkan oleh beberapa faktor seperti: kemajuan teknologi, workaholic, dan sifat posesif.

Kemajuan teknologi
Teknologi bukan hal yang menjadi asal-usul perselingkuhan, namun bisa memicu perselingkuhan. Ketakutan bahwa kemajuan teknologi bisa membuat pasangan selingkuh, bisa membuat seseorang melanggar privasi pasangannya. Misalnya, membuka e-mail, SMS, atau situs jejaring sosial pasangan, bahkan minta password segala. Kebiasaan inilah yang menurut Prof Sarlito kerap memicu pertengkaran.

“Beri kepercayaan pada pasangan untuk punya wilayah privasinya sendiri. Kalau ternyata dia selingkuh, itu bisa diurus belakangan. Intinya jangan cari-cari masalah,” jelas Guru Besar Psikologi Universitas Indonesia yang mendalami Psikologi Sosial ini.
Bagaimanapun, teknologi akan mempermudah pekerjaan dan kehidupan seseorang. Jadi, pasangan pun berhak menikmatinya.
Workaholic
Bila salah satu atau kedua pihak terlalu asik dengan pekerjaan masing-masing, perlahan-lahan bisa menghilangkan kesetiaan. Jika workaholic tidak diselingi dengan kencan berdua, misalnya, akan sulit bagi pasangan untuk bertahan. Hubungan pernikahan akan terasa hambar dan terasa sama saja dengan rutinitas hidup yang lain. Rasa hambar ini kelak akan berujung pada keinginan untuk mencari “selingan”. Siapa yang menjadi "selingan" tersebut? Kemungkinan besar adalah rekan kerja, partner bisnis, atau siapapun yang biasa Anda jumpai saat bekerja atau beraktivitas.

Sifat posesif
Orang yang selalu menginginkan pasangan berperilaku sesuai dengan keinginannya cenderung membuat pasangan menjadi bosan. Kehidupan rumah tangga pun menjadi kaku karena pasangan selalu merasa diawasi dan akhirnya merasa terkekang.

Contohnya masalah cemburu. Cemburu yang berlebihan bisa memberi penghakiman yang terlalu cepat kepada pasangan, padahal perselingkuhan belum tentu terjadi. Kemarahan yang tidak memiliki alasan kuat justru akan menambah keretakan hubungan. Karena sifat manusia cenderung selalu memilih yang lebih baik, jangan sampai ulah Anda yang pencemburu atau posesif mendorong pasangan mencari orang lain.
“Jangan bermimpi mengubah seseorang, tapi ubah dulu diri Anda, maka pasangan akan mengikuti,” tukasnya.
Penulis :
Tenni Purwanti
Editor :


K      Tiga Kesalahan Perempuan Ketika Pasangannya Selingkuh
Sabtu, 14 Mei 2011 | 14:53 WIB
http://stat.k.kidsklik.com/data/2k10/kompascom2011/images/icon_dibaca.gif
KOMPAS.com - Siapapun pasti tidak bisa menerima jika pasangannya selingkuh. Setiap orang akan merasa kecolongan, merasa dibodohi dan dipermalukan. Namun, banyak perempuan yang makin memperparah kondisinya ini dengan melakukan tiga jenis kesalahan. Anda ingin tahu apa kesalahan tersebut?
1. Menyelidiki
Mengaku sajalah, begitu Anda mencurigai pasangan sedang berselingkuh, Anda pasti akan langsung menanyai teman-temannya, mengawasi setiap gerak-geriknya, berusaha mengecek SMS atau panggilan telepon di ponselnya, bahkan menginterogasinya. Benar-benar menghabiskan energi, dan hanya ini dilakukan untuk membuktikan apa yang sebenarnya sudah jelas: bahkan hubungan itu sudah kandas.

Untuk mengetahui bahwa hubungan Anda berdua tidak beres, sebenarnya Anda tidak membutuhkan bukti berupa perselingkuhan si dia. Entah ia memang sedang selingkuh, atau hanya Anda yang parno, bukti semacam ini tidak diperlukan untuk mengetahui bahwa sesuatu harus berubah. Berusaha keras menangkap basah pasangan dan teman perempuannya tidak akan memuaskan Anda. Hal itu hanya akan menyakiti hati Anda, dan membuat Anda terkesan desperate di mata selingkuhannya.

2. Menyalahkan si WIL
Anda ingat ketika Brad Pitt baru bercerai dengan Jennifer Aniston, dan langsung dekat dengan Angelina Jolie? Atau ketika Leann Rhimes dan Eddie Cibrian meninggalkan pasangannya masing-masing untuk bersama? Setiap orang akan langsung menganggap Jolie dan Rhimes sebagai iblisnya, pencuri suami orang, perusak rumah tangga orang lain. Sedangkan Brad Pitt dan Eddie Cibrian selamat sentosa karena tak seorang pun menyalahkan dirinya. Tidak ada orang yang mengatakan bahwa Brad telah menipu dan menyalahgunakan kepercayaan istrinya.
Mengapa Angelina Jolie tidak boleh menjadi satu-satunya orang yang disalahkan? Tak lain karena ia bukan orang yang punya keterikatan dengan Anda, yang berjanji akan sehidup-semati dengan Anda, dan kemudian menduakan Anda. Perselingkuhan terjadi karena ada pria dan wanita yang terlibat. Jika bukan karena kesalahan si perempuan, tentu karena kesalahan si laki-laki.

Orang berselingkuh karena mereka memang pembohong. Ketika seorang pria selingkuh, hal itu bukan karena ia terpikat dengan pesona perempuan lain. Hal itu bukan karena perempuan lain itu memberikan sesuatu yang tidak Anda miliki. Bukan pula karena ia lebih hebat daripada Anda. Pembohong akan membohongi Anda, dan mereka tidak memerlukan dorongan tertentu untuk berselingkuh.

Oleh karena itu, singkirkan kemarahan Anda terhadap perempuan lain dalam hubungan Anda tersebut. Berkonsentrasilah pada kenyataan bahwa pasangan Anda telah merusak komitmennya.

3. Berusaha mengubahnya
Anda perlu mengenali bagaimana karakter pasangan Anda sesungguhnya. Apakah ia sedang "khilaf", atau ia memang tukang selingkuh? Selingkuh adalah pola perilaku yang tidak akan "sembuh", tak peduli berapa banyak perubahan yang ia janjikan, atau berapa banyak perubahan yang telah Anda lakukan untuk membuatnya tetap setia pada Anda. Kalau ia memang sudah sering selingkuh, untuk apa sih mempertahankan pria seperti itu? Anda tak mau hidup Anda terus dipenuhi rasa khawatir akan kehilangan, bukan?

Selain itu, Anda bukan orang yang memicunya untuk selingkuh. Perselingkuhan bukan merupakan cerminan dari ketidakberhargaan Anda, melainkan suatu indikasi bahwa ia tidak mampu memegang tanggung jawab dalam memelihara hubungan. Yang bermasalah itu dia, bukan Anda.
Tetapi karena bukan Anda yang menyebabkan kekasih Anda selingkuh, Anda pun tak bisa menghentikan perselingkuhan itu. Tidak ada perubahan yang bisa Anda lakukan untuk mengubah seorang peselingkuh menjadi orang yang setia. Tak ada gunanya berandai-andai, kalau Anda lebih rajin merawat diri, lebih liar di atas ranjang, atau kalau Anda tidak terlalu penurut, pasti suami akan lebih setia. Ingat, si dia lah yang bersalah, bukan Anda.
Penulis :
Felicitas Harmandini
Editor : Dini


L.                     Enam  Fakta Dia Tidak Setia
KOMPAS.com - Adalah penasehat pernikahan M Gary Neuman yang berhasil menyibak misteri perselingkuhan laki-laki. Ia telah meneliti 200 pria yang mengaku berselingkuh dan yang tidak. Berikut hasil penelitian Neuman.

1. Selingkuh karena alasan emosional

Riset menunjukkan 48 persen laki-laki mengatakan ketidakpuasan emosional sebagai alasan utama berselingkuh. Banyak yang menyatakan perselingkuhan selalu berkaitan dengan seks. Hanya delapan persen pria yang mengatakan bahwa ketidakpuasan seks menjadi penyebab utama.

"Selebihnya lebih ke emosional. Sama seperti perempuan, pria juga ingin dihargai. Lelaki juga ingin dimengerti bahwa ia selalu berusaha membahagiakan dan menyenangkan pasangan. Ketika kepuasan emosional itu tidak didapat dari pasangan, ia mencari perempuan lain yang bisa memenuhi kehampaan jiwanya," kata Neuman.

2. Pria merasa bersalah ketika selingkuh
Sebanyak 66 persen pria merasa bersalah ketika sedang berselingkuh. Sedangkan 68 persen pria yang berselingkuh tidak pernah membayangkan sebelumnya, dan tidak mengharapkan perselingkuhan terjadi. Jadi jangan dikira ia merasa bebas berselingkuh. Bisa jadi ia malah membayangkan Anda ketika sedang bermesraan dengan selingkuhannya. Menurut Neuman, perasaan bersalah saja tidak cukup membuat pria berhenti berselingkuh. "Laki-laki paling jago membagi perasaannya. Mereka bisa menahan emosi dan baru menghadapi perasaan itu di kemudian hari," kata Neuman.

Neuman mengingatkan, meski si dia berjanji untuk tidak selingkuh, bukan berarti ia tidak akan berselingkuh selamanya. Saat ini mungkin tidak, tapi entah esok, lusa atau mungkin tahun depan ia akan mulai memikirkannya.

3. Pria berselingkuh terpengaruh teman
Sebanyak 77 persen pria yang berselingkuh mempunyai teman dekat yang juga selingkuh. Pesan orangtua agar tidak salah dalam bergaul ternyata ada benarnya. Menurut penelitian Neuman, bergaul dengan teman yang sering selingkuh, membuat si dia berpikir selingkuh itu sesuatu yang normal. Tapi, alasan ini tidak lantas membuat Anda melarang si dia berteman. Anda boleh saja meminta pengertiannya untuk tidak ikut dalam acara di mana banyak kesempatan berselingkuh. Anda dan dia perlu lebih sering berkumpul dengan teman yang berkomitmen setia dalam hubungan dan keluarga.

4. Pria bertemu WIL di tempat kerja
Sebanyak 40 persen pria bertemu wanita idaman lain (WIL) di tempat kerja. Perempuan yang menjadi idaman lain pria biasanya gemar memuji, mengagumi, dan mengapresiasi prestasi kerjanya. Nah, inilah pentingnya pasangan saling menghargai. Anda bisa mengetahui perempuan lain yang mengagumi pasangan dari seberapa sering ia menyebut satu nama rekan kerja perempuan dibandingkan pria. Apalagi jika ia mengingau namanya. Apa yang bisa dilakukan? Bicarakan. Diskusikan mengenai batasan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan dengan rekan kantor berlawanan jenis. Misalnya dengan siapa ia lembur, siapa yang menemaninya dinas ke luar kota atau hal lainnya yang bisa disepakati berasama pasangan.

5. Tidak semua WIL lebih menarik secara fisik
Hanya 12 persen pria yang mengatakan bahwa WIL lebih menarik secara fisik ketimbang pasangannya. Sebenarnya, si dia tidak berpikir untuk berselingkuh agar mendapat seks yang lebih baik dengan perempuan yang lebih seksi. Pria berselingkuh untuk mengisi kekosongan emosionalnya. Jika pria merasa nyaman dengan perempuan lain, barulah seks mengiringi.

"Jika cemas pasangan berselingkuh, jangan terlalu fokus tentang hal itu. Justru bangunlah hubungan yang lebih baik dengan pasangan. Namun jangan mengesampingkan seks. Karena itu adalah salah satu cara pria mengekspresikan rasa cinta," saran Neuman.

6. Pria tak langsung berhubungan seks dengan selingkuhannya
Hanya enam persen laki-laki yang langsung berhubungan seks dengan selingkuhannya. Sementara 73 persen pria memerlukan waktu sekitar satu bulan. Ia akan lebih dahulu mencari tahu tentang perempuan tersebut dan meyakinkan perasaannya. Jadi, sebelum perselingkughan benar-benar terjadi, Anda masih punya waktu untuk mencegahnya. (Chic/Precilia Meirisa)